...

Frasa

BAB II
PEMBAHASAN

1.      Pengertian Sintaksis
Ramlan (2005: 19) mengemukakan istilah sintaksis secara langsung terambil dari bahasa Belanda, syntaxis. Dalam bahasa Inggris digunakan istilah syintax. Sintaksis ialah bagian atau cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana, kalimat, klausa dan frase.
Menurut Kridalaksana (1985: 6), sintaksis adalah subsistem tata bahasa mencakup kata dan satuan-satuan lebih besar dari kata serta hubungan antar satuan itu. Menurut Chaer (2009: 3), sintaksis adalah subsistem kebahasaan yang membicarakan penataan dan pengaturan kata-kata itu kedalam satuan-satuan yang lebih besar, yang disebut sintaksis, yakni kata, frasa, klausa, kalimat dan wacana.
Adapun menurut Ahmad (2002: 1), sintaksis mempersoalkan hubungan antara kata dan satuan-satuan yang lebih besar, membentuk suatu konstruksi yang disebut kalimat. Senada dengan Ahmad, Syamsudin (2007: 364) mengungkapkan bahwa sintaksis atau disebut juga ilmu tata kalimat. Pengertian sintaksis yang dikemukakan para ahli bahasa tersebut menunjukkan bahwa sintaksis adalah cabang linguistik yang bidang kajiannya meliputi satuan lingual berwujud kata, klausa, kalimat, hingga wacana.
Sebagai contoh, kalimat Hari raya sudah berada di depan mata tersusun atas beberapa unsur yang saling berhubungan. Misal kata hari dan raya membentuk konstruksi hari raya, kata sudah dan berad, kata di, depan dan mata membentuk konstruksi di depan mata. Hubungan antarkata yang demikian ini disebut frasa. Selanjutnya, masing-masing frasa tersebut saling berhubungan dengan frasa lain dalam satuan yang lebih luas. Misalnya frasa idul fitri berhubungan dengan frasa sudah berada, yang berarti idul fitri merupakan pokok atau entitas yang keadaannya dijelaskan oleh frasa sudah berada. Selanjutnya, frasa di depan mata berhubungan juga dengan kedua frasa sebelumnya, yakni memberi tambahan makna tempat pada kedua frasa tersebut. Hubungan antarfrasa ini membentuk satuan yang disebut klausa. Karena diakhiri oleh titik (.), klausa ini juga merupakan kalimat.
2.      Pengertian Frase
Kalimat Dua orang mahasiswa sedang membaca buku baru di perpustakaan terdiri dari satu klausa, yaitu dua orang mahasiswa sedang membaca buku baru di perpustakaan. Selanjutnya, klausa itu terdiri dari empat unsur yang lebih rendah tatarannya, yaitu dua orang mahasiswa, sedang membaca, buku baru dan di perpustakaan. Unsur-unsur itu ada yang terdiri dari dua kata, yakni sedang membaca, buku baru dan di perpustakaan dan ada yang terdiri dari tiga kata, yaitu dua orang mahasiswa. Di samping itu, masing-masing unsur menduduki satu fungsi. Dua orang mahasiswa menduduki fungsi S, sedang membaca menduduki fungsi P, buku baru menempati fungsi O dan di perpustakaan menempati fungsi KET. Demikianlah unsur klausa yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi itu merupakan satuan gramatik yang disebut frase. Jadi frase adalah satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi unsur klausa.
Dari batasan diatas, dapatlah dikemukakan bahwa frase mempunyai dua sifat, yaitu :
1.      Frase merupakan satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih.
2.      Frase merupakan satuan yang tidak melebihi batas fungsi unsur klausa, maksudnya frase itu selalu terdapat dalam satu fungsi unsur klausa, yaitu S, P, O, PEL atau KET.
Untuk lebih jelasnya, perhatikan tabel berikut :
I
II
III
Mahasiswa menghadiri seminar
Mahasiswa STKIP akan menghadiri seminar nasional
Beberapa mahasiswa STKIP mungkin akan menghadiri seminar nasional bahasa Indonesia
Satuan yang membentuk kalimat pada kolom I berbentuk kata, yaitu mahasiswa, menghadiri, dan seminar. Mahasiswa berfungsi sebagai S dengan perannya sebagai pelaku, menghadiri berfungsi sebagai P dengan perannya sebagai perbuatan yang dilakukan oleh pelaku, sedangkan seminar, berfungsi sebagai O dengan perannya sebagai sasaran dari perbuatan menghadiri. Perhatikan tabel berikut :
Mahasiswa
Menghadiri
Seminar
Pelaku
Perbuatan
Ssasaran
Subjek
Predikat
objek
Pada kolom II, masing-masing kata tersebut diperluas. Kata mahasiswa diperluas menjadi mahasiswa STKIP. Kata menghadiri diperluas menjadi akan menghadiri, kata seminar diperluas menjadi seminar nasional. Perluasan kata ini membentuk konstruksi frasa. Kata mahasiswa, menghadiri, dan seminar berfungsi sebagai unsur inti atau pusat informasi, sedangkan kata STKIP, akan, dan nasional berfungsi sebagai pewatas yang memberi informasi tambahan atau membatasi informasi yang terdapat pada unsur inti.. perhatikan tabel berikut :
Mahasiswa STKIP
Akan menghadiri
Seminar nasional
Pelaku
Perbuatan
Ssasaran
Subjek
Predikat
objek
Pada kolom III, frasa mahasiswa STKIP diperluas menjadi beberapa mahasiswa, frasa akan menghadiri diperluas menjadi mungkin akan menghadiri. Frasa seminar nasional diperluas menjadi seminar nasional bahasa Indonesia. Bentuk perluasan ini masih berbentuk frasa karena masih tetap berada pada tataran fungsi sintaksis yang sama. Perhatikan contoh berikut:
Beberapa mahasiswa STKIP
Mungkin akan menghadiri
Seminar nasional bahasa Indonesia
Pelaku
Perbuatan
Ssasaran
Subjek
Predikat
objek
Contoh diatas menunjukkan bahwa frasa tersusun atas dua kata atau lebih yang tidak melebihi batas fungsi unsur klausa. Artinya, konstruksi frasa hanya menduduki satu fungsi klausa, unsur S saja, unsur P saja, unsur O saja, unsur PEL saja atau unsur Ket saja. Tidak mungkin suatu konstruksi frasa menduduki fungsi S dan P sekaligus.
Ciri-Ciri Frasa
Ciri-ciri yang melekat pada frasa sebetulnya telah tersirat pada beberapa definisi yang telah dikemukakan oleh para ahli. Ciri-ciri tersebut menurut Suhardi, (2013: 21) dikemukakan sebagai berikut.
a.         Frasa terdiri dari dua kata atau lebih;
b.        Frasa belum melampaui batas fungsi (SPOK);
c.         Frasa belum memenuhi syarat sebagai klausa; dan
d.        Frasa lebih kecil daripada klausa.
3.    Jenis-Jenis Frasa
Menurut Suhardi, (2013: 23−44) mengungkapkan jenis-jenis frasa dapat dikelompokkan atas beberapa kelompok yang dijelaskan sebagai berikut.
1.    Berdasarkan Kelas Kata
Berdasarkan kelas kata yang menduduki frasa, maka frasa dibedakan menjadi dua golongan, yaitu frasa dan frasa eksosentrik. Frasa endosentrik juga dikelompokkan menjadi dua, yaitu frasa endosentrik atributif dan frasa endosentrik koordinatif (Parera, 1988: 33−40).

1)   Frasa Endosentrik
a.         Frasa Endosentrik Atributif
Frasa endosentrik atributif adalah sejenis frasa yang salah satu katanya merupakan atribut. Berdasarkan letak atau posisi atribut (A) di dalam frasa maka Parera, (1988: 34) mengelompokkan frasa menjadi empat kelompok sebagai berikut.
·      Atribut mendahului pusat: AX
Contoh:
a)    Matahari hampir terbenam di ufuk barat.
b)   Pak Budi tidak datang pada pertemuan kemarin.
·      Pusat di depan, atribut di belakang: XA
Contoh:
a)          Saya sudah siapkan uang pembayar utang setiap bulan.
b)         Tamu itu berada di ruang depan kini.
·      Atribut terpisah/terbagi: AXA
Contoh:
a)    Dia mencari sebuah buku kesukaannya.
b)   Wanita itu sungguh cantik sekali.
·      Atribut mana suka: AX atau XA
Conttoh:
a)    Pendengar sekalian dimana saja berada atau sekalian pendengar dimana saja berada.
b)   dia berpaling ke otrang lain atau dia berpaling ke

b.    Frasa Endosentrik Koordinatif
Frasa endosentrik koordinatif adalah frasa yang memiliki dua kata dan berasal dari kelas yang sama. Berdasarkan kelas kata yang mengiringi tersebut, Parera (1988: 36), mengelompokkan frasa endosentrik koordinatif menjadi empat kelompok berikut.
·      Penambahan (Adikatif)
Kedudukan anggota pembentuk sama, yaitu yang satu tidak tergantung dengan yang lain.
Contoh:
a)    Baju itu terlihat putih lagi bersih.
b)   Cobalah kamu berdiri serta mengedepankan tangan!

·      Penggabungan
Contoh:
a)    Samakah menurut Saudara lembu dan kerbau?
b)   Perbanyaklah latihan membaca dan menulis!

·      Pemisahan/pilihan
Contoh:
a)    Tuhan tidak membedakan kaya atau miskin umat-Nya.
b)   Keduanya, baik adik maupun kakak sama dimata ayah.

·      Perwalian (Aposisi)
Konstruksi aposisi/perwalian adalah sebuah konstruksi endosentrik dan masuk akal untuk menganggapnya sebagai konstruksi atributif, akan tetapi sulit mencari pusat konstruksinya.
Contoh
a)    Buku itu ditulis Prof. Dr. M. Moeljono.
b)   Pabrik itu diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

2)   Frasa Eksosentrik
Frasa eksosentrik adalah suatu konstruksi yang terdiri dari dua kata atau lebih, tetapi berdistribusi tidak mengikuti salah satu unsur pembentuknya. Selanjutnya frasa eksosentrik juga diterjemahkan sebagai gabungan dua kata atau lebih yang menunjukkan kelas kata dari perpaduan itu tidak sama dengan kelas kata salah satu (atau lebih) unsur pembentuknya.
Contoh:
a)    dari sekolah               (kata keterangan: asal)
b)   di kampus                  (keterangan: tempat)
c)    ke rumah                   (keterangan: tujuan)

2.    Berdasarkan Inti Kata
Pengelompokan jenis frasa berdasarkan unsur inti yang membangun frasa tersebut sama dengan pengelompokan atas kelas katanya di atas. Letak perbedaan dilihat dari ada tidaknya unsur inti dalam frase tersebut. Jika memiliki inti, maka dikelompokkan dalam endosentrik, namun yang tidak memiliki maka disebut eksosentrik
Menurut Chaer (2015: 120−149), dilihat dari kedudukan kedua unsurnya, dibedakan adanya frase koordinatif, yaitu kedudukan kedua unsurnya yang sederajat; dan frase subordinatif, yaitu yang kedudukan kedua unsurnya tidak sederajat. Ada yang berkedudukan sebagai unsur atasan, yang kita sebut inti frase; dan ada yang berkedudukan sebagai bawahan, atau yang kita sebut tambahan penjelas frase. Dilihat dari hubungan kedua unsurnya, dibedakan adanya frase endosentrik, yaitu yang salah satu unsurnya dapat menggantikan keseluruhannya; dan adanya frase eksosentrik, yaitu yang kedua unsurnya merupakan satu kesatuan. Kemudian kalau dilihat dari kategorinya, dibedakan danya frase nominal, frase verbal, frase ajektifal dan frase preposisional.
Lalu, berdasarkan kriteria di atas, kita dapat mencatat adanya jenis-jenis frase sebagai berikut.
1)   Frase Nominal
Frase nominal (FN) adalah frase yang dapat mengisi fungsi subjek atau objek di dalam klausa. Menurut strukturnya dapat dibedakan adanya frase nominal koordinatif (FNK) dan frase nominal subordinatif (FNS)
2)   Frase Verbal
Frase verbal adalah frase yang mengisis atau menduduiki fungsi predikat pada sebuah klausa. Dilihat dari kedudukan di antara kedua unsur pembentuknya dibedakan adanya frase verbal koordinaf (FVK) dan frase verbal subordinatif (FVS)
3)   Frase Ajektifal
Frase ajektifal adalah frase yang mengisi atau menduduki fungsi predikat dalam sebuah klausa ajektifal. Dilihat dari kedudukan kedua unsurnya dibedakan adanya frase ajektifa koordinatif (FAK) dan frase ajektifa subordinatif (FAS).
4)   Frase Preposisional
Frase preposisional adalh frase yang berfungsi sebagai pengisi fungsi keterangan di dalam sebuah klausa. Frase preposisional ini bukan frase koordinatif maupun frase subordinatif, melainkan frase eksosentrik. Jadi, dalam frase ini tidak ada unsur inti dan unsur tambahan. Kedua unsurnya merupakan satu-kesatuan yang utuh.
3.      Jenis-jenis Frase
Sebagai suatu konstruksi, frasa disusun oleh beberapa unsur pembentuk yang saling berhubungan secara fungsional. Sebagai contoh, frasa telur asin, terdiri atas nomina yang diikuti oleh adjektiva. Kedua unsur itu memiliki hubungan fungsi. Kata telur berfungsi sebagai unsur inti (pusat) dan kata asin sebagai pewatas. Hubungan keduanya menghasilkan makna 'rasa' yang berarti telur yang rasanya asin. Konstruksi frasa ini termasuk frasa nominal karena pusatnya berupa nomina dan memiliki fungsi serta distribusi yang sama dengan nomina.
Frasa yang berfungsi dan berdistribusi sama dengan salah satu anggota pembentuknya disebut frasa endrosentis. Perhatikan contoh berikut :
1.      Menteri Hukum dan HAM mulai menertibkan pengelolaan rumah tahanan di lingkungan kepolisian.
2.      Menteri  mulai menertibkan pengelolaan di lingkungan kepolisian.
Frasa Menteri Hukum dan HAM pada kalimat (1) memiliki distribusi yang sama dengan kata Menteri pada kalimat (2). Kata menteri termasuk golongan nomina. Oleh karena itu, frasa Menteri Hukum dan HAM termasuk golongan frasa nomina, demikian pula dengan pengelolaan rumah tahanan pada kalimat (1) memiliki distribusi yang sama dengan kata pengelolaan pada kalimat (2).
Selain frasa endrosentris, terdapat juga frasa eksosentris, yaitu konstruksi frasa yang tidak berfungsi dan berdistribusi sama dengan semua unsur pembentuknya. Perhatikan contoh berikut :
1.      Para menteri menghadiri rapat bersama presiden di istana negara
2.      *Para menteri menghadiri rapat bersama presiden di ..............
3.      *Para menteri menghadiri rapat bersama presiden ..... istana negara.
Unsur dalam frasa eksosentris tidak terdiri dari unsur inti dan pewatas, tetapi terdiri dari unsur perangkai dan sumbu. Sebagai contoh frasa di istana. Kata di berfungsi sebagai perangkai, sedangkan kata istana berfungsi sebagai sumbu. Yang termasuk ke dalam jenis frasa ini adalah frasa preposisional.

4.      Kata Majemuk
Menurut Suhardi (2013: 74-79) mengatakan bahwa kalimat majemuk adalah kalimat yang memiliki beberapa predikat atau dibangun atas beberapa klausa. Berdasrkan bentuk klausa yang membangunnya, kalimat majemuk dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu (1) kalimat majemuk setara, (2) kalimat majemuk bertingkat, (3) kalimat majemuk campuran, dan (4) kalimat majemuk rapatan.
1)   Kalimat majemuk setara
Kalimat majemuk setara adalah kalimat majemuk yang dibangun atas dua kalimat tunggal. Kedua kalimat tersebut memiliki predikat yang kedudukannya sejajar (setara) di dalam kalimat. Biasanya kalimat majemuk setara menggunakan kata hubung: dan, tetapi, atau.
Contoh:
a.    Ani belajar dan Budi membaca koran.
b.    Dia tidak belajar tetapi mengobrol di kelas.
c.    Kamu suka yang ini atau kamu suka yang itu?

2)   Kalimat majemuk bertingkat
Kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat majemuk yang dibangun atas dua kalimat tunggal. Kedua kalimat tunggal tersebut memiliki kedudukan yang berbeda. Biasanya dibangun atas dua, yaitu anak kalimat dan induk kalimat. Letak anak kalimat dapat berada setelah induk kalimat atau boleh juga mendahului induk kalimat.
Contoh (anak kalimat berada setelah induk kalimat):
a.    Ia sudah duduk di rumah ketika saya kembali dari kampus.
b.    Saya akan menunaikan ibadah haji ke Mekkah jika saya memiliki uang cukup.
Contoh (anak kalimat mendahului induk kalimat):
a.    Ketika saya kembali dari kampus, Ali sudah menunggu di depan rumah saya.
b.    jika saya memiliki uang cukup, saya akan menunaikan ibadah haji ke Mekkah.

3)   Kalimat majemuk campuran
Kalimat majemuk campuran adalah kalimat majemuk yang dibangun atas campuran beberapa kalimat majemuk (setara dan bertingkat).
Contoh:
a.    Amir berangkat ke sekolah dan Meri pergi ke kantor ketika rombongan guru-guru SMAN 6 datang.
b.    Acara pembukaan pelatihan itu tertunda beberapa jam sebab rombongan Pak Camat datang terlambat sehingga acara itu ditutup menjelang sore.

4)   Kalimat majemuk rapatan
Kalimat majemuk rapatan adalah kalimat majemuk yang salah satu unsurnya hilang (merapat)
a.    Bapak membaca surat kabar Batam Post.
b.    Adik membaca surat kabar batam Post.
Kalimat (a) dan (b) di atas dapat dibentuk menjadi kalimat majemuk rapatan dengan cara menghilangkan salah satu unsur yang sama, sehingga menjadi.
Bapak dan adik membaca surat kabar Batam Post.
Kesamaan unsur yang terjadi dalam kalimat majemuk rapatan dapat saja terjadi kesamaan subjek, predikat, objek atau keterangan
1)        Kesamaan subjek
a.         Kakak memasak gulai kambing.
b.         Kakak merangkai bunga.
*     Kakak memasak gulai kambing dan merangkai bunga.
2)        Kesamaan predikat
a.         Bapak menanam pohon.
b.         Ibu menanam pohon.
*     Bapak dan Ibu menanam pohon dan bunga
3)        Kesamaan objek
a.         Adik menyepak bola.
b.         Amir menyepak bola.
*     Adik dan Amir menyepak bola.
4)        Kesamaaan keterangan
a.         Rudi belajar di sekolah.
b.         Budi belajar di sekolah.
*     Rudi dan Budi belajar di sekolah.
5.      Perluasan Frase.
5.1.   Perluasan Frasa Nominal
          Frasa nominal dapat diperluas ke kanan atau ke kiri dengan menambahkan unsur-unsur pewatas pada nomina inti. Brikut ini beberapa kaidah perluasan frasa (bandingkan dengan Alwi dkk., 2003: 244)
1.         Suatu inti dapat diikuti oleh satu nomina atau lebih. Rangkaian kemudian ditutup dengan salah satu pronomina persona atau ini/itu. Setiap nomina hanya menerangkan nomina sebelumnya
Contoh:         Dosen Sosiologi Universitas Indonesia itu
                             Inti      diperluas oleh beberapa nomina
2.        Suatu inti dapat diikuti oleh adjektiva, pronomina, kemudian ditutup oleh ini/itu. Polanya adalah (1) nomina, (2) adjektiva, (3) pronomina persona, (4) ini/itu.
Contoh:
mobil
mobil baru
mobil baru saya
mobil baru saya ini
3.        Suatu inti juga diperluas dengan adjektiva, kata yang, pronomina persona, lalu diakhiri dengan kata ini/itu. Polanya adalah (1) nomina, (2) persona, (3) yang, (4) adjektiva, (5) ini/itu.
Contoh:
mobil
mobil saya
mobil saya yang
mobil saya yang baru
mobil saya yang baru ini
4.        Suatu inti dapat diperluas dengan aposisi, yakni frasa nominal yang mempunyai acuan yang sama dengan nomina inti.
Contoh: Imam B. Prasodjo, sosiolog Universitas Indonseia
Dalam hal ini, orang yang dirujuk oleh aposisi sosiolog Universitas Indonesia adalah Imam B. Prasodjo.

5.         Nomina inti juga dapat diperluas oleh frasa pereposisional. Frasa preposisi ini merupakan bagian dari frasa nominal karena nomina inti tersebut bukan bentuk definit, melainkan nomina yang masih umum sehingga konstruksi frasanya tidak dapat dipindah-pindahkan.
       Contoh:    dokter
                        dokter di Indonesia
                        * di Indonesia dokter
Apabila nomina dokter diikuti oleh determinan ini/itu, frasa preposisi di Indonesia tidak lagi menjadi bagian dari frasa nominal, tetapi merupakan bagian dari klausa yang menduduki fungsi predikat
            dokter itu (S) di Indonesia (P)

5.2.   Perluasan Frasa Verbal
1.    Frasa verbal dapat diperluas dengan menambah adverbia yang berfungsi sebagai pewatas depan.
Contoh:    akan pergi
                 tentu akan pergi
                 belum tentu akan pergi
                 mungkin belum tentu akan pergi
2.    Frasa verbal juga dapat diperluas dengan menambah pewatas belakang.
Contoh:    Pergi saja
                 Pergi saja lagi

5.3.   Perluasan Frasa Adjektival
Frasa adjektival dapat diperluas dengan menambah pewatas, baik pewatas depan, maupun pewatas belakangnya
Contoh:         licah
                      tak lincah
                      tak lincah lagi
                      sudah tak lincah lagi
                      sudah sangat tak lincah lagi

5.4.   Perluasan Frasa Numeralia
Frasa numeralia dapat diperluas ke kanan atau ke kiri dengan menambahkan unsur-unsur pewatas pada numeralia inti
Contoh:         dua
                      hanya dua belas
                      hanya dua belas ribu
                      hanya dua belas ribu ekor

5.5.   Perluasan Frasa Pronominal
1.    Frasa pronominal dapat diperluas ke kanan atau ke kiri dengan menambahkan unsur-unsur pewatas pada pronomina inti.
Contoh:         Kamu
                      Kamu berempat
                      Hanya kamu berempat
                      Hanya kamu berempat saja
2.    Frasa pronominal dapat diperluas dengan penambahan frasa nominal yang berfungsi sebagai apositif
Contoh:         Hanya kami, mahasiswa semester satu

5.6.   Perluasan Frasa Adverbial
Frasa adverbial dapat diperluas ke kanan dengan menambahkan unsur-unsur pewatas pada adverbia inti.
Contoh:         sekarang
                      sekarang ini
                      sekarang ini saja
                      bukan sekarang ini saja

5.7.   Perluasan Frasa Preposisional
Frasa preposisional dapat diperluas ke kanan dengan menambahkan unsur-unsur sumbu pada preposisi yang berfungsi sebagai perangkai. Biasanya unsur sumbu yang ditambahkan untuk memperluas frasa preposisional adalah nomina.
Contoh:         di
                      di atas lemari
                      di atas lemari baju
                      di atas lemari baju seragam
                        di atas lemari baju seragam kantor

Tidak ada komentar:

Posting Komentar