Festival Puisi Bangkalan 2
Tut... tut...
Tut... tut...
Tut... tut...
"Hallo... Ponapah?"
"Assalamualaikum..., Bâ'na bâḍâ è kimmah, Om?"
"Waalaikumussalam...,
Kaulâ la bâḍâ è lokasi bhâreng Syahrum. Bâ`na bâḍâ dhimmah?"
"Kaulâ ghi` bâḍâ
compok, ghi` kapèlengngan."
"Ngèrèng kanna` rèh, a bhâreng bhi` Anggara ban
Fattah."
" Èngghi lastarèna, Om, ghi` ngantos sapèda."
" Èngghi, è antossah."
"Hmmm..., depan SMAN 2 Bangkalan ya? Kok pintu
gerbangnya tutup?"
Tut... tut...
Tut... tut...
"Hallo, apah Ris?"
"Om, lèbât kimmah? Ma` totop gerbang ghir laok?"
"Lèbât dâjâh, Ris. Sè è laôk lakar è totop.”
"Ya wes kaulâ moter saos, tlambhâs."
Tut...
"Dhâ` remmah ma` tellat, Ris?"
"Saporannah Om, kèk cètak."
"Beh, de-ngodeh la kèk cètak, dhuliyen abinèh ma`lè bâḍâ sè mècet.
Hahahaha."
"Mumet Om, ruwet bhi` komputer, pas UN ngangghuy komputer.”
"Padâh Ris, nèng kaulâ kiyah, kèng kaulâ tak ro`-norok. Tapèh lastarè
kan?"
"Èngghi, Om. Eh, bâdhi napah catettan nèkah?"
"Juah Ris, legghi` dhârih Festival riyah bhi` Pak Helmi è pakon abhâdhi cerpèn dhâri kegiadhân
Festival Puisi Bangkalan."
"O... lembâran juah?"
"Jiah lembâr tanda tangan, bhân lastarè acara nyo`on tanda tangan
dha` Pak Helmi bâdhi
bhuktèh jhâ` bâ`na lastarè
ngèrèng acara nèkah sampek lobâr. Lo` nègghu`?"
"Shobung Om, bâḍâ e Riska, pola lastarèna acara pas è parèngè."
"Iyyeh pola."
Sebenarnya posisi duduk agak
kurang nyaman karena depan dan belakangku terlalu ramai. Aku sampai stres,
posisi tidak nyaman. Tiga orang yang ingin aku cari. Kulihat di sekeliling,
luar biasa kupikir. Semua karya yang dipajang dijadikan sebagai 'tembok' pada
tiap sisi aula kecuali panggung yang tetap ada di depan. Kupandangi satu per
satu foto yang terpajang di tiap sisi. Ada foto Pak Roz, dosen yang aku kagumi
karena tinggi badan dan cara mengajar menggunakan sistem ceramah dengan sangat
cermat dan rinci. Pak Roz adalah lebih mirip dosen buku. Kenapa? Karena apa
yang ada di buku itu seperti sudah dihafal oleh beliau, namun ada sisi positif
yakni di buku tidak diikuti oleh contoh yang sesuai zaman. Maka, Pak Roz akan
memberikan contohnya sesuai apa yang terjadi dengan di masa lalu, dan saat ini
yang terjadi. Aku merasa bahwa Pak Roz itu cerdas, seperti kakaknya, Pak Muhri
yang sama-sama mendalami ilmu sastra.
Ada
beberapa foto yang tampil sebagai ‘dinding’ aula. Mataku tetap berkeliling memandangi foto pada banner
dan aku terkejut. Ada seorang dosen yang tidak pernah kusangka penampilannya
sewaktu muda, yaitu Pak Helmi. Sang inspirator serta mesin yang menciptakan
acara Festival Puisi Bangkalan (pendapat pribadi). Dalam foto yang ada pada
banner tersebut, beliau di waktu muda adalah seorang.... yang lebih kelihatan
ke arah blatèr. Sorot matanya tajam,
menyimpan sejuta pengetahuan tentang ilmu puisi. Kulitnya nampak putih. Dan
yang paling membuatku pangling adalah rambutnya. Ya rambut, ternyata dosen yang
satu ini dulu pernah memiliki rambut yang gondrong. Aku benar-benar merasa
seolah-olah tak percaya bahwa beliau seperti sangat morsal, namun menyimpan sejuta bakat yang sempat dipertanyakan
sendiri oleh Ibunda beliau.
Orang yang kucari akhirnya
ketemu. Tak disangka dia yang datang dari arah belakangku. Ya, Mas Holil,
sahabat yang awalnya kuanggap pemuda kurang baik, ternyata mampu mengikuti
jejak Pak Helmi dan Pak Roz. Dia telah menerbitkan antologi puisinya sendiri
dengan judul "Cholil Anwar Sedang Sakit". Sepintas kulihat dari cover
bukunya, jika diingat-ingat lagi, entah, dia mirip seorang penyair terkenal
yang karya-karyanya tetap luar biasa sampai saat ini. Namanya Chairil Anwar.
Posisinya sama persis, di foto agak diagonal, dengan mata fokus ke bawah
memandangi satu benda. Jika Chairil sedang merokok, maka Cholil sedang ingin
meminum obat. Sesuai dengan judulnya "Cholil Anwar Sedang Sakit". Rasa
penasaran yang belum sempat aku tanyakan adalah mengapa dia menggunakan nama
belakang 'Anwar' dalam judulnya. Entah apakah dia seorang penggemar Chairil
Anwar atau memang wajahnya sangat mirip dengan Chairil. Entah, belum sempat
kutanya. Dan satu lagi hampir lupa bahwa nama atasnya dalam buku itu tertulis
M. Holil Shangsa. Entah apa artinya. Sekali lagi, belum kutanyakan. Ingin sih
bertanya, tapi sepertinya dia sedang sibuk.
Tinggal satu orang lagi yang
belum kutemukan. Jika tidak sampai bertemu bisa gawat ini! Seperti kejadian
tahun lalu yang mana kita disindir habis-habisan karena terlalu apatis terhadap
jurusan sendiri. Hanya kalangan-kalangan tertentu saja yang datang. Mata ini
tidak boleh lelah, tetap harus mencari. Kupikir tak susah menemukan beliau,
selain karena tubuhnya yang besar juga karena beliau tidak akan jauh dari
kamera dan berkumpul dengan orang-orang yang sealiran. Dan tadaaa... akhirnya. Ketemu.
Ya dia adalah wali dosen
kelas 4B. Nama? Ah sudahlah, tidak perlu disebutkan. Kita semua pasti tahu kok.
Wajah, perawakan, postur, watak dan bla bla bla...
Ah... aku masih belum bisa
menemui sang dosen tercinta, karena rentetan acara masih berlangsung. Sambutan
dari berbagai pihak mulai bergantian bersahutan. Ada wakil dari DPRD, ada juga
dari pihak Kodim 0829, tapi dari Polres kok tidak ada? Apakah aku salah
melihat? Ya sudahlah, tak mengapa.
Acara silih berganti. Satu
hal yang menarik perhatian sore itu buatku adalah penampilan musikalisasi puisi
"Madura Akulah Darahmu" karya D. Zawawi Imron yang sangat mem-booming dibawakan oleh anak-anak didikan
dari Pak Helmi berasal dari SMKN 1 Bangkalan, tempatku dulu sekolah. Sama
seperti Mas Holil yang juga alumni dari SMKN 1 Bangkalan. Bangga juga rasanya
ada adik kelas yang berprestasi bisa berada di satu tempat. Mas Holil yang
telah menelurkan antologi Puisi "Cholil Anwar Sedang Sakit" dan
menyaksikan adik kelas yang masih bersekolah membawakan musikalisasi puisi.
Seumur-umur, belum pernah aku melihat pemain biola di depan mata, kecuali pada
acara ini. Dulu sih pada semester tiga juga, tapi dengan orang yang sama.
Pukul 16.15 WIB, acara telah selesai. Seorang
perempuan, menghampiriku.
"Kak, ini lembar tanda tangan dari Pak Helmi mau
digimanakan?" tutur Mbak Riska.
"Ya kemarin gimana, Mbak?"
"Katanya sih dipegang satu per satu kemudian
minta tanda tangan sama Pak Helmi."
"Ya sudah, tunggu saja, saya masih mau ke Mas Holil
dulu, kangen sudah lama tak bertemu."
Aku pun langsung ke arah
stan Mas Holil, sobatku. Begitu dia terlihat tidak sibuk, aku pun segera datang
bersalaman dan berpelukan layaknya seorang sahabat yang telah terpisah sekian
tahun dan baru bertemu.
"Dhâ` napah
kabhârrâh, Mas? Saè, ghi? Pas abit tak masok."
"Hahaha
korang saè Mas, karèh lèssonah, meyarsa ḍâri Mbak Riska jhâ` bâḍâ acara dhâ` nèkah
ghi la ngèrèng saos."
"Pak Harisss..., nèkah Pak, nyo`on tanda tangan dhâ` Pak Helmi. Pakon ketua kellas se èdhikane. Manabi tak ketua tak è tanda tangan," kata Luluk dengan nafas yang terengah-engah didampingi Mukaffi.
"Èngghi Pak,
manabi sampèyan tak ngadhep tak è tanda tangan, kissah nak-kanak kellas A bhân kellas C ampon ngadhep
dhâ` Pak Helmi."
"Ghi ampon ngèrèng dha` Pak Helmi, kèng a kadhi sibuk sareng tamoy Pak
Helmi." Antrian tidak beraturan pun
mulai sejak tadi telah terbentuk. Pak Helmi ibarat sebungkus gula yang
dikerubuti oleh kumpulan semut. Banyak anak-anak dari kelas sebelah yang
meminta tanda tangan kehadiran sebagai bukti bahwa mereka telah mengikuti acara
pertama dari empat acara yang direncanakan. Sangat terlihat wajah beliau sedang
kelelahan dikarenakan selain melayani para tamu maupun undangan, beliau juga
harus melayani mahasiswanya yang begitu banyak. Namun, beliau berusaha untuk
tidak menampakkan wajah lelahnya dengan berusaha melayani sambil tersenyum.
Tiba giliranku, aku pun menyodorkan lembar tanda tangan dari teman sekelas. Aku
berusaha sebaik mungkin agar Pak Helmi tidak kesusahan dalam memisahkan lembar
tanda tangan, maka aku ambil inisiatif sendiri. Setelah lembaran tersebut
ditandatangani, langsung aku keluarkan dari tumpukan lembar yang lain. Jadi
memudahkan beliau.
Selesai acara tanda tangan
dengan penuh ta`dzim aku pun mencium tangan Pak Helmi dan pamit untuk pulang.
Tak lupa aku pun segera mencari dosen tercinta. Saat akan melewati kursi
penonton kebetulan bertemu dengan Pak Bagus dan aku pun langsung mencium
tangannya sekaligus memohon maaf karena
sudah absen dalam beberapa minggu hampir di setiap mata kuliah dikarenakan
tugas kantor, tapi alhamdulillah beliau mengerti.
Sore itu acara pun telah
berakhir. Semua mahasiswa telah 'menghilang' dari aula Pratanu. Yang tersisa
hanyalah para panitia, dosen dari STKIP dan beberapa penyair dari luar
Bangkalan. Ya, luar Bangkalan. Memang acara lebih meriah karena acara Festival
Puisi ini dihadiri oleh penyair (aku menyebutnya begitu) dari luar Bangkalan.
Mungkin lebih tepatnya dari Jawa.
Akhirnya..., sampai juga, namun
saat acara dimulai, setelah penampilan musikalisasi puisi, kurang membuat
semangat karena hanya semacam seminar dan suara pematerinya terlalu kecil serta
mendengung. Jadi, ya cuma duduk manis saja sambil menikmati kripik singkong
yang dibawa oleh Fattah dan Om Aldi. Ingin sekali sebenarnya bertanya saat ada
sesi tanya jawab, namun karena waktu yang sudah mau larut, kasihan yang
perempuan pulangnya pasti kemalaman dan akhirnya pertanyaan pun oleh Pak Roz
selaku moderator hanya dibatasi tiga pertanyaan saja. Alhasil, aku pun harus
mengalah karena banyak yang bertanya. Pertanyaanku sih sebenarnya mudah untuk
ditanyakan, entah jawabannya. Apa sih yang tidak penting dalam puisi? Jika
memang banyak yang menjawab tidak penting, mengapa susah sekali membuat puisi?
Aku sampai revisi tujuh kali baru di-acc,
itu pun masih dibantu teman, baru selesai. Ya begitulah..., karena sudah
terlalu malam untuk dilanjutkan khawatir pada kaum hawa.
Sial juga siang ini. Saat
kulihat motor Honda Supra-X kesayangan, kok seperti ada yang aneh. Coba lihat
pelan-pelan. Oalah..., ternyata ban belakang kempes. Baiklah. Ambil pompa.
Genjot..., selesai juga, tapi firasatku tidak nyaman. Aku merasa bahwa motor ini
ban belakangnya bocor. Ternyata benar. Bocor. Sempat kudatangi tukang tambal
ban, tapi ternyata masih belum bisa melayani kecuali sore, jadi kutitipkan
saja. Sambil kutelpon si Lana, untuk menjemput. Ditunggu-tunggu tidak datang,
ternyata salah pengertian dan yang datang adalah seorang perempuan. Ya, ikut
dia. Kulihat acara sore itu sepertinya kurang menggairahkan bagiku. Kenapa?
Karena aku sangat telat sekali. Baru sampai, lima menit kemudian acara sudah
selesai. Baiklah. Cari Pak Helmi, tidak ketemu juga. Untung ada anak kesayangan
Pak Helmi (Mas Holil) yang selalu update memberikan
informasi kepadaku. Katanya Pak Helmi lagi sibuk menerima tamu di Tarogan,
kediaman beliau. Aku pun disuruh pulang dan diminta untuk tanda tangan di akhir
acara saja atau malam puncak. Malam minggu.
Yang ditunggu akhirnya...,
sepertinya malam ini adalah malam yang menyenangkan bagiku. Kenapa? Acara
musikalisasi puisi ditambah aksi teater yang tegang-tegang menarik. Sungguh
luar biasa. Ini adalah aksi yang paling totalitas menurutku dari tiga kali
melihat aksi teaterikal secara langsung. Benar-benar mereka punya bakat seni yang
luar biasa. Setelah tampil kurang lebih tiga puluh menit selesai juga acaranya,
ditambah acara dari masing-masing penyair yang harus menampilkan pembacaan
puisi di depan audien yang hadir. Entah ini acara kejutan atau apa, aku tidak
tahu. Yang jelas aku sangat menikmatinya. Ada puisi dalam bahasa Madura, puisi
diselipkan humor kocak, puisi dengan penjiwaan yang totalitas sampai sang
penyair bertelanjang dada dengan bangga memamerkan tubuh cungkringnya. Ada pula
yang berpuisi sambil merokok. Badannya sampai miring-miring, mungkin karena
mengikuti tinggi dari setang mikropon yang sepertinya kurang tinggi untuk
penyair tersebut. Tapi jujur malam ini aku sangat menikmatinya, sangat...,
terima kasih teman-teman, terima kasih Pak Helmi.
Acara pun selesai tidak semalam
kemarin, tapi sekali lagi, aku terkejut. Karena Pak Helmi tiba-tiba saja hilang
bak ditelan bumi. Kucoba untuk menghubungi Mas Holil dan dia bilang kalau Pak
Helmi masih pulang. Mas Holil pun menyarankan agar lembar tanda tangan dia yang
pegang. Baiklah kalau begitu, aku bergegas menemui Mas Holil dan menyerahkan lembar
tanda tangan satu kelas kepadanya untuk diberikan kepada Pak Helmi. Pikiranku
masih belum tenang karena aku masih belum bisa menikmati pelukan dari sang wali
dosen. Hatiku gelisah karena dari tadi sang wali masih melayani foto bersama
dari mahasiswanya. Aku harus bersabar. Harus. Harus bisa mendapatkan fotonya.
Aku minta Mas Holil menemaniku sebentar untuk dapat berfoto dengan wali dosen,
didampingi Mbak Nurul dan Mbak Riska. Akhirnya kesempatan itu pun datang dan
tak akan kusia-siakan. Langsung saja kusalami beliau dengan penuh ta`dzim
kemudian minta ijin untuk foto bareng. Sepertinya beliau juga menunggu momen
ini. Dan akhirnya..., dapat juga. Terima kasih Pak Bagus dan terima kasih untuk
semua yang telah menyukseskan acara Festival Puisi Bangkalan 2 ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar