...

ARTIKEL



WAKTU AKU SAMA BAGUS

Haris, begitulah orang mengenalku, entah bagaimana ceritanya dipanggil Haris dengan Nama lengkapku Risdiyanto.
ini bukanlah cerita tentang seorang Haris, tapi tentang teman. Bagus Tri Handoko. Ya, perkenalanku dengannya masih seumur jagung. Baru setahun, itupun masih kurang… sosok teman dikelas yang mungkin awalnya saya menyebut sang inspirator karena punya banyak ide. teman baru, baru bertemu.
Berbicara masalah “teman” memang tidak akan selesai karena saya punya banyak teman, jadinya banyak warna.
Mau dimulai darimana saya juga tidak tahu, yang penting nulis saja lah. Benar atau salah ketemu belakang saja.

Pria gemuk kelahiran 1989 ini memang agak berbeda dengan teman kebanyakan. Kalau teman yang lain kebanyakan ke “timur” dia malah ingin ke “barat”.
Otaknya selalu penuh dengan ide2 baru dan tak terduga karena pengalamannya diwaktu menjadi mahasiswa sangat banyak (pernah sih dengar2 katanya dia pernah jadi aktivis juga, pernah juga mendirikan organisasi di kampus). Sayang, aku belum bisa mendapatkan  sesuatu yang baik yang harus aku pelajari.
pernah menjadi seorang jurnalis selama beberapa tahun dan ilmu yang satu itu coba diterapkan kepadaku, hanya saja aku masih belum sanggup menerimanya mengingat aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku diluar sana sehingga agak memecahkan konsentrasi.
cerita dimulai saat semester 1 bertemu saat keterampilan menyimak…
biasa saja………………..
bertemu lagi saat semester 2 di keterampilan menulis. sedikit berbeda karena karena sekarang lebih dekat.
berbicara soal kepribadian, Bagus sosok muda yang memang punya ide segar, ambisius hanya tidak bisa disatukan dengan keadaan teman2 yang lain. Banyak berbicara tentang kisahnya, tentang perasaannya, tentang apa yang dia pernah lakukan.
Ingin selalu memberikan yang terbaik untuk semua orang, itu bagus. mengajarkan banyak hal.
membicarakan kejelekan orang memang tidak ada habisnya, tapi membicarakan tentang kebaikan orang, kok kayaknya Cuma seperti menghisap rokok, gak sampai 5 menit sudah habis.
hubunganku dengan Bagus sangat romantis. Diawal bertemu, aku sangat bangga karena ada orang yang bisa memberikan “sesuatu” yang positif.
aku butuh banyak ide untuk membuat diriku semakin berkembang menjadi pribadi yang lebih baik dan aku selalu berusaha mendapatkannya dari Bagus, tapi aku tak tau bagaimana cara memintanya agar ia bisa membimbingku.
waktupun terus berjalan, apa yang aku harapkan masih belum tercapai, tapi aku masih belum menyerah hingga akhirnya akupun masih belum bisa mendapatkan “sesuatu” darinya atau mungkin aku yang tidak bisa menangkap “sesuatu” yang dia berikan kepadaku.
namun... itu hanyalah pandanganku secara subjektif karena aku tidak begitu akrab dengannya. karena aku selalu menilainya dengan penuh kebosanan (mungkin tidak sesuai dengan harapanku), mungkin memang benar, bosan karena aku memandangnya secara kacamata hitam. ada hal positif yang tersembunyi, entah tidak mau ditampilkan atau memang sengaja membiarkanku menilai dengan caraku yang hanya mencari kesalahannya saja.
1 hal yang memang sulit untuk diterima yaitu ketika membandingkan aku dengan orang lain yang memang dirasa lebih baik dan bermutu. okelah, tidak apa. tpi menurutku lebih baik mari urus pertemanan kita sama2 saling melengkapi.
hingga suatu hari disatu titik pada hari selasa dia sangat marah besar karena kesalahanku dan akupun tak mampu membendung amarahnya. Mungkin juga karena bercampur dengan masalah yang lain sehingga lepaslah “bom” emosinya.

aku sadar tentang apa yang aku lakukan kepadanya salah dan aku coba untuk memperbaiki kesalahanku agar hubungan ini tetap terjaga, namun aku masih tak kuasa. akupun masih belum bisa melupakan sesuatu yang dia katakan, “memilihku atau pekerjaan?”
1 hal yang ingin aku katakan adalah aku ada disampingnya karena pekerjaanku. kalau aku
tidak bekerja tidak mungkin aku bisa bertemu dengannya.
Perasaanku ibarat wanita yang tidak suka dibanding-bandingkan dengan wanita lain. caba bayangkan saja. memang anggaplah itu sebagai motivasi, tapi 1 hal lagi, saya butuh bimbingan (secara doa dan keilmuan) bukan perbandingan karena mental saya masih belum bagus. Ini dunia pendidikan (yang penuh dengan kasih sayang), bukan dunia militer (yang penuh dengan ujian baik secara ujian mental atau fisik)
aku tidak ingin dia berubah. aku suka kepribadiannya. aku hanya ingin tolong fokuslah untuk membimbingku, fokuslah mengajariku sesuatu yang tidak aku ketahui dan engkau ketahui, tapi itu sangat bermanfaat bagiku. aku tidak suka Bagus terlalu banyak bicara tentang

hal2 yang jauh dari apa yang ingin ku ketahui agar hubunganku dengannya tetap sejuk.
dan aku mohon bersabarlah dalam membimbingku karena akupun tak sama denganmu... tidak sama dan tidak sama. aku minta maaf karena telah menyayangimu sebagai seorang sahabat dan aku minta maaf aku belum bisa memahami apa yang engkau mau dariku. Pengalamanmu lebih banyak dariku, untuk itulah aku lebih suka saat ini aku menjadi anak kecil yang butuh kasih sayang dan didikan dari ayahnya.


 aku tetap akan berusaha untuk menjadi seorang sahabat yang berusaha tidak mengecewakanmu. aku akan berusaha, tapi tolong ingatkan aku saat aku akan terjatuh sebelum aku benar2 terjatuh. Aku tidak ingin

engkau marah lagi, tolong bersabarlah menghadapi sifat kekanak-kanakanku.

semoga aku bisa mendapatkan sesuatu yang benar2 sangat bermanfaat bagiku dari pertemanan kita............


sebagai penutup tak banyak yang aku sampaikan. aku tidak ingin bercita-cita untuk menjadi guru, hanya saja ada petuah dari KH. Maimun Zubair yang selalu aku ingat karena aku berguru pada diriku sendiri dengan apa yang aku pelajari dan aku alami.

Beliau berkata, “Jadi guru itu tidak usah punya niat bikin pintar orang. Nanti kamu hanya marah-marah ketika melihat muridmu tidak
pintar. Ikhlasnya jadi hilang. Yang Penting niat menyampaikan
ilmu dan mendidik yang baik.
Masalah muridmu kelak jadi pintar atau tidak, serahkan kepada Allah. Didoakan saja terus
menerus agar muridnya mendapat hidayah.


semoga itu selalu menjadi penasehat untuk diriku sendiri.......
tak lupa untuk Bagus sahabatku, semoga tetap bisa menjadi penyemangat bagi diriku.
1 hal yang membuatku takut, bukan Karena amarahmu disaat aku tidak bisa melakukan sesuatu sesuai dengan harapanmu, tapi aku takut jika aku tidak bisa belajar hal yang sangat bermanfaat darimu.
Aku tidak suka, tapi (jujur) aku menyayangimu Bagus sabahatku

CERPEN

 Festival Puisi Bangkalan 2

Tut... tut...
Tut... tut...
"Hallo... Ponapah?"
"Assalamualaikum..., Bâ'na bâḍâ è kimmah, Om?"
"Waalaikumussalam..., Kaulâ la bâḍâ è lokasi bhâreng Syahrum. Bâ`na bâḍâ dhimmah?"
"Kaulâ ghi` bâḍâ  compok, ghi` kapèlengngan."
"Ngèrèng kanna` rèh, a bhâreng bhi` Anggara ban Fattah."
" Èngghi lastarèna, Om, ghi` ngantos sapèda."
" Èngghi, è antossah."
"Hmmm..., depan SMAN 2 Bangkalan ya? Kok pintu gerbangnya tutup?"
Tut... tut...
Tut... tut...
"Hallo, apah Ris?"
"Om, lèbât kimmah? Ma`  totop gerbang ghir laok?"
"Lèbât dâjâh, Ris. Sè è laôk lakar è totop.”
"Ya wes kaulâ moter saos, tlambhâs."
Tut...
"Dhâ` remmah ma` tellat, Ris?"
"Saporannah Om, kèk cètak."
"Beh, de-ngodeh la kèk cètak, dhuliyen abinèh ma`lè bâḍâ sè mècet. Hahahaha."
"Mumet Om, ruwet bhi` komputer, pas UN ngangghuy komputer.”
"Padâh Ris, nèng kaulâ kiyah, kèng kaulâ tak ro`-norok. Tapèh lastarè kan?"
"Èngghi, Om. Eh, bâdhi napah catettan nèkah?"
"Juah Ris, legghi` dhârih Festival riyah bhi` Pak Helmi  è pakon abhâdhi cerpèn dhâri kegiadhân Festival Puisi Bangkalan."
"O... lembâran juah?"
"Jiah lembâr tanda tangan, bhân lastarè acara nyo`on tanda tangan dha` Pak Helmi bâdhi bhuktèh jhâ` bâ`na lastarè ngèrèng acara nèkah sampek lobâr. Lo` nègghu`?"
"Shobung Om, bâḍâ e Riska, pola lastarèna acara pas è parèngè."
"Iyyeh pola."
Sebenarnya posisi duduk agak kurang nyaman karena depan dan belakangku terlalu ramai. Aku sampai stres, posisi tidak nyaman. Tiga orang yang ingin aku cari. Kulihat di sekeliling, luar biasa kupikir. Semua karya yang dipajang dijadikan sebagai 'tembok' pada tiap sisi aula kecuali panggung yang tetap ada di depan. Kupandangi satu per satu foto yang terpajang di tiap sisi. Ada foto Pak Roz, dosen yang aku kagumi karena tinggi badan dan cara mengajar menggunakan sistem ceramah dengan sangat cermat dan rinci. Pak Roz adalah lebih mirip dosen buku. Kenapa? Karena apa yang ada di buku itu seperti sudah dihafal oleh beliau, namun ada sisi positif yakni di buku tidak diikuti oleh contoh yang sesuai zaman. Maka, Pak Roz akan memberikan contohnya sesuai apa yang terjadi dengan di masa lalu, dan saat ini yang terjadi. Aku merasa bahwa Pak Roz itu cerdas, seperti kakaknya, Pak Muhri yang sama-sama mendalami ilmu sastra.
Ada beberapa foto yang tampil sebagai ‘dinding’ aula. Mataku tetap berkeliling memandangi foto pada banner dan aku terkejut. Ada seorang dosen yang tidak pernah kusangka penampilannya sewaktu muda, yaitu Pak Helmi. Sang inspirator serta mesin yang menciptakan acara Festival Puisi Bangkalan (pendapat pribadi). Dalam foto yang ada pada banner tersebut, beliau di waktu muda adalah seorang.... yang lebih kelihatan ke arah blatèr. Sorot matanya tajam, menyimpan sejuta pengetahuan tentang ilmu puisi. Kulitnya nampak putih. Dan yang paling membuatku pangling adalah rambutnya. Ya rambut, ternyata dosen yang satu ini dulu pernah memiliki rambut yang gondrong. Aku benar-benar merasa seolah-olah tak percaya bahwa beliau seperti sangat morsal, namun menyimpan sejuta bakat yang sempat dipertanyakan sendiri oleh Ibunda beliau.
Orang yang kucari akhirnya ketemu. Tak disangka dia yang datang dari arah belakangku. Ya, Mas Holil, sahabat yang awalnya kuanggap pemuda kurang baik, ternyata mampu mengikuti jejak Pak Helmi dan Pak Roz. Dia telah menerbitkan antologi puisinya sendiri dengan judul "Cholil Anwar Sedang Sakit". Sepintas kulihat dari cover bukunya, jika diingat-ingat lagi, entah, dia mirip seorang penyair terkenal yang karya-karyanya tetap luar biasa sampai saat ini. Namanya Chairil Anwar. Posisinya sama persis, di foto agak diagonal, dengan mata fokus ke bawah memandangi satu benda. Jika Chairil sedang merokok, maka Cholil sedang ingin meminum obat. Sesuai dengan judulnya "Cholil Anwar Sedang Sakit". Rasa penasaran yang belum sempat aku tanyakan adalah mengapa dia menggunakan nama belakang 'Anwar' dalam judulnya. Entah apakah dia seorang penggemar Chairil Anwar atau memang wajahnya sangat mirip dengan Chairil. Entah, belum sempat kutanya. Dan satu lagi hampir lupa bahwa nama atasnya dalam buku itu tertulis M. Holil Shangsa. Entah apa artinya. Sekali lagi, belum kutanyakan. Ingin sih bertanya, tapi sepertinya dia sedang sibuk.
Tinggal satu orang lagi yang belum kutemukan. Jika tidak sampai bertemu bisa gawat ini! Seperti kejadian tahun lalu yang mana kita disindir habis-habisan karena terlalu apatis terhadap jurusan sendiri. Hanya kalangan-kalangan tertentu saja yang datang. Mata ini tidak boleh lelah, tetap harus mencari. Kupikir tak susah menemukan beliau, selain karena tubuhnya yang besar juga karena beliau tidak akan jauh dari kamera dan berkumpul dengan orang-orang yang sealiran. Dan tadaaa... akhirnya. Ketemu.
Ya dia adalah wali dosen kelas 4B. Nama? Ah sudahlah, tidak perlu disebutkan. Kita semua pasti tahu kok. Wajah, perawakan, postur, watak dan bla bla bla...
Ah... aku masih belum bisa menemui sang dosen tercinta, karena rentetan acara masih berlangsung. Sambutan dari berbagai pihak mulai bergantian bersahutan. Ada wakil dari DPRD, ada juga dari pihak Kodim 0829, tapi dari Polres kok tidak ada? Apakah aku salah melihat? Ya sudahlah, tak mengapa.
Acara silih berganti. Satu hal yang menarik perhatian sore itu buatku adalah penampilan musikalisasi puisi "Madura Akulah Darahmu" karya D. Zawawi Imron yang sangat mem-booming dibawakan oleh anak-anak didikan dari Pak Helmi berasal dari SMKN 1 Bangkalan, tempatku dulu sekolah. Sama seperti Mas Holil yang juga alumni dari SMKN 1 Bangkalan. Bangga juga rasanya ada adik kelas yang berprestasi bisa berada di satu tempat. Mas Holil yang telah menelurkan antologi Puisi "Cholil Anwar Sedang Sakit" dan menyaksikan adik kelas yang masih bersekolah membawakan musikalisasi puisi. Seumur-umur, belum pernah aku melihat pemain biola di depan mata, kecuali pada acara ini. Dulu sih pada semester tiga juga, tapi dengan orang yang sama.
Pukul 16.15 WIB, acara telah selesai. Seorang perempuan, menghampiriku.
"Kak, ini lembar tanda tangan dari Pak Helmi mau digimanakan?" tutur Mbak Riska.
"Ya kemarin gimana, Mbak?"
"Katanya sih dipegang satu per satu kemudian minta tanda tangan sama Pak Helmi."
"Ya sudah, tunggu saja, saya masih mau ke Mas Holil dulu, kangen sudah lama tak bertemu."
Aku pun langsung ke arah stan Mas Holil, sobatku. Begitu dia terlihat tidak sibuk, aku pun segera datang bersalaman dan berpelukan layaknya seorang sahabat yang telah terpisah sekian tahun dan baru bertemu.
"Dhâ` napah kabhârrâh, Mas? Saè, ghi? Pas abit tak masok."
"Hahaha korang saè Mas, karèh lèssonah, meyarsa ḍâri Mbak Riska jhâ` bâḍâ acara dhâ` nèkah ghi la ngèrèng saos."
"Pak Harisss..., nèkah Pak, nyo`on tanda tangan dhâ` Pak Helmi. Pakon ketua kellas se èdhikane. Manabi tak ketua tak è tanda tangan," kata Luluk dengan nafas yang terengah-engah didampingi Mukaffi.
"Èngghi Pak, manabi sampèyan tak ngadhep tak è tanda tangan, kissah nak-kanak kellas A bhân kellas C ampon ngadhep dhâ` Pak Helmi."
"Ghi ampon ngèrèng dha` Pak Helmi, kèng a kadhi sibuk sareng tamoy Pak Helmi."           Antrian tidak beraturan pun mulai sejak tadi telah terbentuk. Pak Helmi ibarat sebungkus gula yang dikerubuti oleh kumpulan semut. Banyak anak-anak dari kelas sebelah yang meminta tanda tangan kehadiran sebagai bukti bahwa mereka telah mengikuti acara pertama dari empat acara yang direncanakan. Sangat terlihat wajah beliau sedang kelelahan dikarenakan selain melayani para tamu maupun undangan, beliau juga harus melayani mahasiswanya yang begitu banyak. Namun, beliau berusaha untuk tidak menampakkan wajah lelahnya dengan berusaha melayani sambil tersenyum. Tiba giliranku, aku pun menyodorkan lembar tanda tangan dari teman sekelas. Aku berusaha sebaik mungkin agar Pak Helmi tidak kesusahan dalam memisahkan lembar tanda tangan, maka aku ambil inisiatif sendiri. Setelah lembaran tersebut ditandatangani, langsung aku keluarkan dari tumpukan lembar yang lain. Jadi memudahkan beliau.
Selesai acara tanda tangan dengan penuh ta`dzim aku pun mencium tangan Pak Helmi dan pamit untuk pulang. Tak lupa aku pun segera mencari dosen tercinta. Saat akan melewati kursi penonton kebetulan bertemu dengan Pak Bagus dan aku pun langsung mencium tangannya sekaligus memohon maaf  karena sudah absen dalam beberapa minggu hampir di setiap mata kuliah dikarenakan tugas kantor, tapi alhamdulillah beliau mengerti.
Sore itu acara pun telah berakhir. Semua mahasiswa telah 'menghilang' dari aula Pratanu. Yang tersisa hanyalah para panitia, dosen dari STKIP dan beberapa penyair dari luar Bangkalan. Ya, luar Bangkalan. Memang acara lebih meriah karena acara Festival Puisi ini dihadiri oleh penyair (aku menyebutnya begitu) dari luar Bangkalan. Mungkin lebih tepatnya dari Jawa.
Akhirnya..., sampai juga, namun saat acara dimulai, setelah penampilan musikalisasi puisi, kurang membuat semangat karena hanya semacam seminar dan suara pematerinya terlalu kecil serta mendengung. Jadi, ya cuma duduk manis saja sambil menikmati kripik singkong yang dibawa oleh Fattah dan Om Aldi. Ingin sekali sebenarnya bertanya saat ada sesi tanya jawab, namun karena waktu yang sudah mau larut, kasihan yang perempuan pulangnya pasti kemalaman dan akhirnya pertanyaan pun oleh Pak Roz selaku moderator hanya dibatasi tiga pertanyaan saja. Alhasil, aku pun harus mengalah karena banyak yang bertanya. Pertanyaanku sih sebenarnya mudah untuk ditanyakan, entah jawabannya. Apa sih yang tidak penting dalam puisi? Jika memang banyak yang menjawab tidak penting, mengapa susah sekali membuat puisi? Aku sampai revisi tujuh kali baru di-acc, itu pun masih dibantu teman, baru selesai. Ya begitulah..., karena sudah terlalu malam untuk dilanjutkan khawatir pada kaum hawa.
Sial juga siang ini. Saat kulihat motor Honda Supra-X kesayangan, kok seperti ada yang aneh. Coba lihat pelan-pelan. Oalah..., ternyata ban belakang kempes. Baiklah. Ambil pompa. Genjot..., selesai juga, tapi firasatku tidak nyaman. Aku merasa bahwa motor ini ban belakangnya bocor. Ternyata benar. Bocor. Sempat kudatangi tukang tambal ban, tapi ternyata masih belum bisa melayani kecuali sore, jadi kutitipkan saja. Sambil kutelpon si Lana, untuk menjemput. Ditunggu-tunggu tidak datang, ternyata salah pengertian dan yang datang adalah seorang perempuan. Ya, ikut dia. Kulihat acara sore itu sepertinya kurang menggairahkan bagiku. Kenapa? Karena aku sangat telat sekali. Baru sampai, lima menit kemudian acara sudah selesai. Baiklah. Cari Pak Helmi, tidak ketemu juga. Untung ada anak kesayangan Pak Helmi (Mas Holil) yang selalu update memberikan informasi kepadaku. Katanya Pak Helmi lagi sibuk menerima tamu di Tarogan, kediaman beliau. Aku pun disuruh pulang dan diminta untuk tanda tangan di akhir acara saja atau malam puncak. Malam minggu.
Yang ditunggu akhirnya..., sepertinya malam ini adalah malam yang menyenangkan bagiku. Kenapa? Acara musikalisasi puisi ditambah aksi teater yang tegang-tegang menarik. Sungguh luar biasa. Ini adalah aksi yang paling totalitas menurutku dari tiga kali melihat aksi teaterikal secara langsung. Benar-benar mereka punya bakat seni yang luar biasa. Setelah tampil kurang lebih tiga puluh menit selesai juga acaranya, ditambah acara dari masing-masing penyair yang harus menampilkan pembacaan puisi di depan audien yang hadir. Entah ini acara kejutan atau apa, aku tidak tahu. Yang jelas aku sangat menikmatinya. Ada puisi dalam bahasa Madura, puisi diselipkan humor kocak, puisi dengan penjiwaan yang totalitas sampai sang penyair bertelanjang dada dengan bangga memamerkan tubuh cungkringnya. Ada pula yang berpuisi sambil merokok. Badannya sampai miring-miring, mungkin karena mengikuti tinggi dari setang mikropon yang sepertinya kurang tinggi untuk penyair tersebut. Tapi jujur malam ini aku sangat menikmatinya, sangat..., terima kasih teman-teman, terima kasih Pak Helmi.
Acara pun selesai tidak semalam kemarin, tapi sekali lagi, aku terkejut. Karena Pak Helmi tiba-tiba saja hilang bak ditelan bumi. Kucoba untuk menghubungi Mas Holil dan dia bilang kalau Pak Helmi masih pulang. Mas Holil pun menyarankan agar lembar tanda tangan dia yang pegang. Baiklah kalau begitu, aku bergegas menemui Mas Holil dan menyerahkan lembar tanda tangan satu kelas kepadanya untuk diberikan kepada Pak Helmi. Pikiranku masih belum tenang karena aku masih belum bisa menikmati pelukan dari sang wali dosen. Hatiku gelisah karena dari tadi sang wali masih melayani foto bersama dari mahasiswanya. Aku harus bersabar. Harus. Harus bisa mendapatkan fotonya. Aku minta Mas Holil menemaniku sebentar untuk dapat berfoto dengan wali dosen, didampingi Mbak Nurul dan Mbak Riska. Akhirnya kesempatan itu pun datang dan tak akan kusia-siakan. Langsung saja kusalami beliau dengan penuh ta`dzim kemudian minta ijin untuk foto bareng. Sepertinya beliau juga menunggu momen ini. Dan akhirnya..., dapat juga. Terima kasih Pak Bagus dan terima kasih untuk semua yang telah menyukseskan acara Festival Puisi Bangkalan 2 ini.

PUISI

WAJAHKU MEMBISU

Meletakkan tas di ujung meja
Berharap tak memakainya lagi
Burung gagak semakin keras tertawa
Seolah-olah aku menyesal
Sakit punggung yang sebentar datang

Kaki di pintu itu berdiri tanpa alas
Menangis dan marah membuat takut seisi ruang

Tak mampu beranjak, jika masih kulihat kaki itu
Bocah hitam yang telanjang membuatku malu
Ingin kuiris nadi ini dan mereka pun tertawa lepas
Ingin kubalas tawa mereka
Dan akupun berlalu tanpa kata….

Frasa

BAB II
PEMBAHASAN

1.      Pengertian Sintaksis
Ramlan (2005: 19) mengemukakan istilah sintaksis secara langsung terambil dari bahasa Belanda, syntaxis. Dalam bahasa Inggris digunakan istilah syintax. Sintaksis ialah bagian atau cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana, kalimat, klausa dan frase.
Menurut Kridalaksana (1985: 6), sintaksis adalah subsistem tata bahasa mencakup kata dan satuan-satuan lebih besar dari kata serta hubungan antar satuan itu. Menurut Chaer (2009: 3), sintaksis adalah subsistem kebahasaan yang membicarakan penataan dan pengaturan kata-kata itu kedalam satuan-satuan yang lebih besar, yang disebut sintaksis, yakni kata, frasa, klausa, kalimat dan wacana.
Adapun menurut Ahmad (2002: 1), sintaksis mempersoalkan hubungan antara kata dan satuan-satuan yang lebih besar, membentuk suatu konstruksi yang disebut kalimat. Senada dengan Ahmad, Syamsudin (2007: 364) mengungkapkan bahwa sintaksis atau disebut juga ilmu tata kalimat. Pengertian sintaksis yang dikemukakan para ahli bahasa tersebut menunjukkan bahwa sintaksis adalah cabang linguistik yang bidang kajiannya meliputi satuan lingual berwujud kata, klausa, kalimat, hingga wacana.
Sebagai contoh, kalimat Hari raya sudah berada di depan mata tersusun atas beberapa unsur yang saling berhubungan. Misal kata hari dan raya membentuk konstruksi hari raya, kata sudah dan berad, kata di, depan dan mata membentuk konstruksi di depan mata. Hubungan antarkata yang demikian ini disebut frasa. Selanjutnya, masing-masing frasa tersebut saling berhubungan dengan frasa lain dalam satuan yang lebih luas. Misalnya frasa idul fitri berhubungan dengan frasa sudah berada, yang berarti idul fitri merupakan pokok atau entitas yang keadaannya dijelaskan oleh frasa sudah berada. Selanjutnya, frasa di depan mata berhubungan juga dengan kedua frasa sebelumnya, yakni memberi tambahan makna tempat pada kedua frasa tersebut. Hubungan antarfrasa ini membentuk satuan yang disebut klausa. Karena diakhiri oleh titik (.), klausa ini juga merupakan kalimat.
2.      Pengertian Frase
Kalimat Dua orang mahasiswa sedang membaca buku baru di perpustakaan terdiri dari satu klausa, yaitu dua orang mahasiswa sedang membaca buku baru di perpustakaan. Selanjutnya, klausa itu terdiri dari empat unsur yang lebih rendah tatarannya, yaitu dua orang mahasiswa, sedang membaca, buku baru dan di perpustakaan. Unsur-unsur itu ada yang terdiri dari dua kata, yakni sedang membaca, buku baru dan di perpustakaan dan ada yang terdiri dari tiga kata, yaitu dua orang mahasiswa. Di samping itu, masing-masing unsur menduduki satu fungsi. Dua orang mahasiswa menduduki fungsi S, sedang membaca menduduki fungsi P, buku baru menempati fungsi O dan di perpustakaan menempati fungsi KET. Demikianlah unsur klausa yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi itu merupakan satuan gramatik yang disebut frase. Jadi frase adalah satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi unsur klausa.
Dari batasan diatas, dapatlah dikemukakan bahwa frase mempunyai dua sifat, yaitu :
1.      Frase merupakan satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih.
2.      Frase merupakan satuan yang tidak melebihi batas fungsi unsur klausa, maksudnya frase itu selalu terdapat dalam satu fungsi unsur klausa, yaitu S, P, O, PEL atau KET.
Untuk lebih jelasnya, perhatikan tabel berikut :
I
II
III
Mahasiswa menghadiri seminar
Mahasiswa STKIP akan menghadiri seminar nasional
Beberapa mahasiswa STKIP mungkin akan menghadiri seminar nasional bahasa Indonesia
Satuan yang membentuk kalimat pada kolom I berbentuk kata, yaitu mahasiswa, menghadiri, dan seminar. Mahasiswa berfungsi sebagai S dengan perannya sebagai pelaku, menghadiri berfungsi sebagai P dengan perannya sebagai perbuatan yang dilakukan oleh pelaku, sedangkan seminar, berfungsi sebagai O dengan perannya sebagai sasaran dari perbuatan menghadiri. Perhatikan tabel berikut :
Mahasiswa
Menghadiri
Seminar
Pelaku
Perbuatan
Ssasaran
Subjek
Predikat
objek
Pada kolom II, masing-masing kata tersebut diperluas. Kata mahasiswa diperluas menjadi mahasiswa STKIP. Kata menghadiri diperluas menjadi akan menghadiri, kata seminar diperluas menjadi seminar nasional. Perluasan kata ini membentuk konstruksi frasa. Kata mahasiswa, menghadiri, dan seminar berfungsi sebagai unsur inti atau pusat informasi, sedangkan kata STKIP, akan, dan nasional berfungsi sebagai pewatas yang memberi informasi tambahan atau membatasi informasi yang terdapat pada unsur inti.. perhatikan tabel berikut :
Mahasiswa STKIP
Akan menghadiri
Seminar nasional
Pelaku
Perbuatan
Ssasaran
Subjek
Predikat
objek
Pada kolom III, frasa mahasiswa STKIP diperluas menjadi beberapa mahasiswa, frasa akan menghadiri diperluas menjadi mungkin akan menghadiri. Frasa seminar nasional diperluas menjadi seminar nasional bahasa Indonesia. Bentuk perluasan ini masih berbentuk frasa karena masih tetap berada pada tataran fungsi sintaksis yang sama. Perhatikan contoh berikut:
Beberapa mahasiswa STKIP
Mungkin akan menghadiri
Seminar nasional bahasa Indonesia
Pelaku
Perbuatan
Ssasaran
Subjek
Predikat
objek
Contoh diatas menunjukkan bahwa frasa tersusun atas dua kata atau lebih yang tidak melebihi batas fungsi unsur klausa. Artinya, konstruksi frasa hanya menduduki satu fungsi klausa, unsur S saja, unsur P saja, unsur O saja, unsur PEL saja atau unsur Ket saja. Tidak mungkin suatu konstruksi frasa menduduki fungsi S dan P sekaligus.
Ciri-Ciri Frasa
Ciri-ciri yang melekat pada frasa sebetulnya telah tersirat pada beberapa definisi yang telah dikemukakan oleh para ahli. Ciri-ciri tersebut menurut Suhardi, (2013: 21) dikemukakan sebagai berikut.
a.         Frasa terdiri dari dua kata atau lebih;
b.        Frasa belum melampaui batas fungsi (SPOK);
c.         Frasa belum memenuhi syarat sebagai klausa; dan
d.        Frasa lebih kecil daripada klausa.
3.    Jenis-Jenis Frasa
Menurut Suhardi, (2013: 23−44) mengungkapkan jenis-jenis frasa dapat dikelompokkan atas beberapa kelompok yang dijelaskan sebagai berikut.
1.    Berdasarkan Kelas Kata
Berdasarkan kelas kata yang menduduki frasa, maka frasa dibedakan menjadi dua golongan, yaitu frasa dan frasa eksosentrik. Frasa endosentrik juga dikelompokkan menjadi dua, yaitu frasa endosentrik atributif dan frasa endosentrik koordinatif (Parera, 1988: 33−40).

1)   Frasa Endosentrik
a.         Frasa Endosentrik Atributif
Frasa endosentrik atributif adalah sejenis frasa yang salah satu katanya merupakan atribut. Berdasarkan letak atau posisi atribut (A) di dalam frasa maka Parera, (1988: 34) mengelompokkan frasa menjadi empat kelompok sebagai berikut.
·      Atribut mendahului pusat: AX
Contoh:
a)    Matahari hampir terbenam di ufuk barat.
b)   Pak Budi tidak datang pada pertemuan kemarin.
·      Pusat di depan, atribut di belakang: XA
Contoh:
a)          Saya sudah siapkan uang pembayar utang setiap bulan.
b)         Tamu itu berada di ruang depan kini.
·      Atribut terpisah/terbagi: AXA
Contoh:
a)    Dia mencari sebuah buku kesukaannya.
b)   Wanita itu sungguh cantik sekali.
·      Atribut mana suka: AX atau XA
Conttoh:
a)    Pendengar sekalian dimana saja berada atau sekalian pendengar dimana saja berada.
b)   dia berpaling ke otrang lain atau dia berpaling ke

b.    Frasa Endosentrik Koordinatif
Frasa endosentrik koordinatif adalah frasa yang memiliki dua kata dan berasal dari kelas yang sama. Berdasarkan kelas kata yang mengiringi tersebut, Parera (1988: 36), mengelompokkan frasa endosentrik koordinatif menjadi empat kelompok berikut.
·      Penambahan (Adikatif)
Kedudukan anggota pembentuk sama, yaitu yang satu tidak tergantung dengan yang lain.
Contoh:
a)    Baju itu terlihat putih lagi bersih.
b)   Cobalah kamu berdiri serta mengedepankan tangan!

·      Penggabungan
Contoh:
a)    Samakah menurut Saudara lembu dan kerbau?
b)   Perbanyaklah latihan membaca dan menulis!

·      Pemisahan/pilihan
Contoh:
a)    Tuhan tidak membedakan kaya atau miskin umat-Nya.
b)   Keduanya, baik adik maupun kakak sama dimata ayah.

·      Perwalian (Aposisi)
Konstruksi aposisi/perwalian adalah sebuah konstruksi endosentrik dan masuk akal untuk menganggapnya sebagai konstruksi atributif, akan tetapi sulit mencari pusat konstruksinya.
Contoh
a)    Buku itu ditulis Prof. Dr. M. Moeljono.
b)   Pabrik itu diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

2)   Frasa Eksosentrik
Frasa eksosentrik adalah suatu konstruksi yang terdiri dari dua kata atau lebih, tetapi berdistribusi tidak mengikuti salah satu unsur pembentuknya. Selanjutnya frasa eksosentrik juga diterjemahkan sebagai gabungan dua kata atau lebih yang menunjukkan kelas kata dari perpaduan itu tidak sama dengan kelas kata salah satu (atau lebih) unsur pembentuknya.
Contoh:
a)    dari sekolah               (kata keterangan: asal)
b)   di kampus                  (keterangan: tempat)
c)    ke rumah                   (keterangan: tujuan)

2.    Berdasarkan Inti Kata
Pengelompokan jenis frasa berdasarkan unsur inti yang membangun frasa tersebut sama dengan pengelompokan atas kelas katanya di atas. Letak perbedaan dilihat dari ada tidaknya unsur inti dalam frase tersebut. Jika memiliki inti, maka dikelompokkan dalam endosentrik, namun yang tidak memiliki maka disebut eksosentrik
Menurut Chaer (2015: 120−149), dilihat dari kedudukan kedua unsurnya, dibedakan adanya frase koordinatif, yaitu kedudukan kedua unsurnya yang sederajat; dan frase subordinatif, yaitu yang kedudukan kedua unsurnya tidak sederajat. Ada yang berkedudukan sebagai unsur atasan, yang kita sebut inti frase; dan ada yang berkedudukan sebagai bawahan, atau yang kita sebut tambahan penjelas frase. Dilihat dari hubungan kedua unsurnya, dibedakan adanya frase endosentrik, yaitu yang salah satu unsurnya dapat menggantikan keseluruhannya; dan adanya frase eksosentrik, yaitu yang kedua unsurnya merupakan satu kesatuan. Kemudian kalau dilihat dari kategorinya, dibedakan danya frase nominal, frase verbal, frase ajektifal dan frase preposisional.
Lalu, berdasarkan kriteria di atas, kita dapat mencatat adanya jenis-jenis frase sebagai berikut.
1)   Frase Nominal
Frase nominal (FN) adalah frase yang dapat mengisi fungsi subjek atau objek di dalam klausa. Menurut strukturnya dapat dibedakan adanya frase nominal koordinatif (FNK) dan frase nominal subordinatif (FNS)
2)   Frase Verbal
Frase verbal adalah frase yang mengisis atau menduduiki fungsi predikat pada sebuah klausa. Dilihat dari kedudukan di antara kedua unsur pembentuknya dibedakan adanya frase verbal koordinaf (FVK) dan frase verbal subordinatif (FVS)
3)   Frase Ajektifal
Frase ajektifal adalah frase yang mengisi atau menduduki fungsi predikat dalam sebuah klausa ajektifal. Dilihat dari kedudukan kedua unsurnya dibedakan adanya frase ajektifa koordinatif (FAK) dan frase ajektifa subordinatif (FAS).
4)   Frase Preposisional
Frase preposisional adalh frase yang berfungsi sebagai pengisi fungsi keterangan di dalam sebuah klausa. Frase preposisional ini bukan frase koordinatif maupun frase subordinatif, melainkan frase eksosentrik. Jadi, dalam frase ini tidak ada unsur inti dan unsur tambahan. Kedua unsurnya merupakan satu-kesatuan yang utuh.
3.      Jenis-jenis Frase
Sebagai suatu konstruksi, frasa disusun oleh beberapa unsur pembentuk yang saling berhubungan secara fungsional. Sebagai contoh, frasa telur asin, terdiri atas nomina yang diikuti oleh adjektiva. Kedua unsur itu memiliki hubungan fungsi. Kata telur berfungsi sebagai unsur inti (pusat) dan kata asin sebagai pewatas. Hubungan keduanya menghasilkan makna 'rasa' yang berarti telur yang rasanya asin. Konstruksi frasa ini termasuk frasa nominal karena pusatnya berupa nomina dan memiliki fungsi serta distribusi yang sama dengan nomina.
Frasa yang berfungsi dan berdistribusi sama dengan salah satu anggota pembentuknya disebut frasa endrosentis. Perhatikan contoh berikut :
1.      Menteri Hukum dan HAM mulai menertibkan pengelolaan rumah tahanan di lingkungan kepolisian.
2.      Menteri  mulai menertibkan pengelolaan di lingkungan kepolisian.
Frasa Menteri Hukum dan HAM pada kalimat (1) memiliki distribusi yang sama dengan kata Menteri pada kalimat (2). Kata menteri termasuk golongan nomina. Oleh karena itu, frasa Menteri Hukum dan HAM termasuk golongan frasa nomina, demikian pula dengan pengelolaan rumah tahanan pada kalimat (1) memiliki distribusi yang sama dengan kata pengelolaan pada kalimat (2).
Selain frasa endrosentris, terdapat juga frasa eksosentris, yaitu konstruksi frasa yang tidak berfungsi dan berdistribusi sama dengan semua unsur pembentuknya. Perhatikan contoh berikut :
1.      Para menteri menghadiri rapat bersama presiden di istana negara
2.      *Para menteri menghadiri rapat bersama presiden di ..............
3.      *Para menteri menghadiri rapat bersama presiden ..... istana negara.
Unsur dalam frasa eksosentris tidak terdiri dari unsur inti dan pewatas, tetapi terdiri dari unsur perangkai dan sumbu. Sebagai contoh frasa di istana. Kata di berfungsi sebagai perangkai, sedangkan kata istana berfungsi sebagai sumbu. Yang termasuk ke dalam jenis frasa ini adalah frasa preposisional.

4.      Kata Majemuk
Menurut Suhardi (2013: 74-79) mengatakan bahwa kalimat majemuk adalah kalimat yang memiliki beberapa predikat atau dibangun atas beberapa klausa. Berdasrkan bentuk klausa yang membangunnya, kalimat majemuk dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu (1) kalimat majemuk setara, (2) kalimat majemuk bertingkat, (3) kalimat majemuk campuran, dan (4) kalimat majemuk rapatan.
1)   Kalimat majemuk setara
Kalimat majemuk setara adalah kalimat majemuk yang dibangun atas dua kalimat tunggal. Kedua kalimat tersebut memiliki predikat yang kedudukannya sejajar (setara) di dalam kalimat. Biasanya kalimat majemuk setara menggunakan kata hubung: dan, tetapi, atau.
Contoh:
a.    Ani belajar dan Budi membaca koran.
b.    Dia tidak belajar tetapi mengobrol di kelas.
c.    Kamu suka yang ini atau kamu suka yang itu?

2)   Kalimat majemuk bertingkat
Kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat majemuk yang dibangun atas dua kalimat tunggal. Kedua kalimat tunggal tersebut memiliki kedudukan yang berbeda. Biasanya dibangun atas dua, yaitu anak kalimat dan induk kalimat. Letak anak kalimat dapat berada setelah induk kalimat atau boleh juga mendahului induk kalimat.
Contoh (anak kalimat berada setelah induk kalimat):
a.    Ia sudah duduk di rumah ketika saya kembali dari kampus.
b.    Saya akan menunaikan ibadah haji ke Mekkah jika saya memiliki uang cukup.
Contoh (anak kalimat mendahului induk kalimat):
a.    Ketika saya kembali dari kampus, Ali sudah menunggu di depan rumah saya.
b.    jika saya memiliki uang cukup, saya akan menunaikan ibadah haji ke Mekkah.

3)   Kalimat majemuk campuran
Kalimat majemuk campuran adalah kalimat majemuk yang dibangun atas campuran beberapa kalimat majemuk (setara dan bertingkat).
Contoh:
a.    Amir berangkat ke sekolah dan Meri pergi ke kantor ketika rombongan guru-guru SMAN 6 datang.
b.    Acara pembukaan pelatihan itu tertunda beberapa jam sebab rombongan Pak Camat datang terlambat sehingga acara itu ditutup menjelang sore.

4)   Kalimat majemuk rapatan
Kalimat majemuk rapatan adalah kalimat majemuk yang salah satu unsurnya hilang (merapat)
a.    Bapak membaca surat kabar Batam Post.
b.    Adik membaca surat kabar batam Post.
Kalimat (a) dan (b) di atas dapat dibentuk menjadi kalimat majemuk rapatan dengan cara menghilangkan salah satu unsur yang sama, sehingga menjadi.
Bapak dan adik membaca surat kabar Batam Post.
Kesamaan unsur yang terjadi dalam kalimat majemuk rapatan dapat saja terjadi kesamaan subjek, predikat, objek atau keterangan
1)        Kesamaan subjek
a.         Kakak memasak gulai kambing.
b.         Kakak merangkai bunga.
*     Kakak memasak gulai kambing dan merangkai bunga.
2)        Kesamaan predikat
a.         Bapak menanam pohon.
b.         Ibu menanam pohon.
*     Bapak dan Ibu menanam pohon dan bunga
3)        Kesamaan objek
a.         Adik menyepak bola.
b.         Amir menyepak bola.
*     Adik dan Amir menyepak bola.
4)        Kesamaaan keterangan
a.         Rudi belajar di sekolah.
b.         Budi belajar di sekolah.
*     Rudi dan Budi belajar di sekolah.
5.      Perluasan Frase.
5.1.   Perluasan Frasa Nominal
          Frasa nominal dapat diperluas ke kanan atau ke kiri dengan menambahkan unsur-unsur pewatas pada nomina inti. Brikut ini beberapa kaidah perluasan frasa (bandingkan dengan Alwi dkk., 2003: 244)
1.         Suatu inti dapat diikuti oleh satu nomina atau lebih. Rangkaian kemudian ditutup dengan salah satu pronomina persona atau ini/itu. Setiap nomina hanya menerangkan nomina sebelumnya
Contoh:         Dosen Sosiologi Universitas Indonesia itu
                             Inti      diperluas oleh beberapa nomina
2.        Suatu inti dapat diikuti oleh adjektiva, pronomina, kemudian ditutup oleh ini/itu. Polanya adalah (1) nomina, (2) adjektiva, (3) pronomina persona, (4) ini/itu.
Contoh:
mobil
mobil baru
mobil baru saya
mobil baru saya ini
3.        Suatu inti juga diperluas dengan adjektiva, kata yang, pronomina persona, lalu diakhiri dengan kata ini/itu. Polanya adalah (1) nomina, (2) persona, (3) yang, (4) adjektiva, (5) ini/itu.
Contoh:
mobil
mobil saya
mobil saya yang
mobil saya yang baru
mobil saya yang baru ini
4.        Suatu inti dapat diperluas dengan aposisi, yakni frasa nominal yang mempunyai acuan yang sama dengan nomina inti.
Contoh: Imam B. Prasodjo, sosiolog Universitas Indonseia
Dalam hal ini, orang yang dirujuk oleh aposisi sosiolog Universitas Indonesia adalah Imam B. Prasodjo.

5.         Nomina inti juga dapat diperluas oleh frasa pereposisional. Frasa preposisi ini merupakan bagian dari frasa nominal karena nomina inti tersebut bukan bentuk definit, melainkan nomina yang masih umum sehingga konstruksi frasanya tidak dapat dipindah-pindahkan.
       Contoh:    dokter
                        dokter di Indonesia
                        * di Indonesia dokter
Apabila nomina dokter diikuti oleh determinan ini/itu, frasa preposisi di Indonesia tidak lagi menjadi bagian dari frasa nominal, tetapi merupakan bagian dari klausa yang menduduki fungsi predikat
            dokter itu (S) di Indonesia (P)

5.2.   Perluasan Frasa Verbal
1.    Frasa verbal dapat diperluas dengan menambah adverbia yang berfungsi sebagai pewatas depan.
Contoh:    akan pergi
                 tentu akan pergi
                 belum tentu akan pergi
                 mungkin belum tentu akan pergi
2.    Frasa verbal juga dapat diperluas dengan menambah pewatas belakang.
Contoh:    Pergi saja
                 Pergi saja lagi

5.3.   Perluasan Frasa Adjektival
Frasa adjektival dapat diperluas dengan menambah pewatas, baik pewatas depan, maupun pewatas belakangnya
Contoh:         licah
                      tak lincah
                      tak lincah lagi
                      sudah tak lincah lagi
                      sudah sangat tak lincah lagi

5.4.   Perluasan Frasa Numeralia
Frasa numeralia dapat diperluas ke kanan atau ke kiri dengan menambahkan unsur-unsur pewatas pada numeralia inti
Contoh:         dua
                      hanya dua belas
                      hanya dua belas ribu
                      hanya dua belas ribu ekor

5.5.   Perluasan Frasa Pronominal
1.    Frasa pronominal dapat diperluas ke kanan atau ke kiri dengan menambahkan unsur-unsur pewatas pada pronomina inti.
Contoh:         Kamu
                      Kamu berempat
                      Hanya kamu berempat
                      Hanya kamu berempat saja
2.    Frasa pronominal dapat diperluas dengan penambahan frasa nominal yang berfungsi sebagai apositif
Contoh:         Hanya kami, mahasiswa semester satu

5.6.   Perluasan Frasa Adverbial
Frasa adverbial dapat diperluas ke kanan dengan menambahkan unsur-unsur pewatas pada adverbia inti.
Contoh:         sekarang
                      sekarang ini
                      sekarang ini saja
                      bukan sekarang ini saja

5.7.   Perluasan Frasa Preposisional
Frasa preposisional dapat diperluas ke kanan dengan menambahkan unsur-unsur sumbu pada preposisi yang berfungsi sebagai perangkai. Biasanya unsur sumbu yang ditambahkan untuk memperluas frasa preposisional adalah nomina.
Contoh:         di
                      di atas lemari
                      di atas lemari baju
                      di atas lemari baju seragam
                        di atas lemari baju seragam kantor