WAKTU AKU SAMA BAGUS
Haris, begitulah orang mengenalku, entah
bagaimana ceritanya dipanggil Haris dengan Nama lengkapku Risdiyanto.
ini bukanlah cerita tentang seorang Haris,
tapi tentang teman. Bagus Tri Handoko. Ya, perkenalanku dengannya masih seumur
jagung. Baru setahun, itupun masih kurang… sosok teman dikelas yang mungkin
awalnya saya menyebut sang inspirator karena punya banyak ide. teman baru, baru
bertemu.
Berbicara masalah “teman” memang tidak akan
selesai karena saya punya banyak teman, jadinya banyak warna.
Mau dimulai darimana saya juga tidak tahu,
yang penting nulis saja lah. Benar atau salah ketemu belakang saja.
Pria gemuk kelahiran 1989 ini memang agak
berbeda dengan teman kebanyakan. Kalau teman yang lain kebanyakan ke “timur”
dia malah ingin ke “barat”.
Otaknya selalu penuh dengan ide2 baru dan tak terduga karena pengalamannya diwaktu menjadi
mahasiswa sangat banyak (pernah sih dengar2 katanya dia pernah jadi
aktivis juga, pernah juga mendirikan organisasi di kampus). Sayang, aku belum bisa
mendapatkan sesuatu yang baik yang harus
aku pelajari.
pernah menjadi seorang jurnalis selama
beberapa tahun dan ilmu yang satu itu coba diterapkan kepadaku, hanya saja aku masih belum sanggup
menerimanya mengingat aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku diluar sana sehingga
agak memecahkan konsentrasi.
cerita dimulai saat semester 1 bertemu saat
keterampilan menyimak…
biasa saja………………..
biasa saja………………..
bertemu lagi saat semester 2 di
keterampilan menulis. sedikit berbeda karena karena sekarang lebih dekat.
berbicara soal kepribadian, Bagus sosok
muda yang memang punya ide segar, ambisius hanya tidak bisa disatukan dengan
keadaan teman2 yang lain. Banyak berbicara tentang kisahnya, tentang
perasaannya, tentang apa yang dia pernah lakukan.
Ingin selalu memberikan yang terbaik untuk
semua orang, itu bagus. mengajarkan banyak hal.
membicarakan kejelekan orang memang tidak ada habisnya,
tapi membicarakan tentang kebaikan orang, kok kayaknya Cuma seperti menghisap
rokok, gak sampai 5 menit sudah habis.
hubunganku dengan Bagus sangat romantis. Diawal bertemu, aku
sangat bangga karena ada orang yang bisa memberikan “sesuatu” yang positif.
aku butuh banyak ide untuk membuat diriku semakin
berkembang menjadi pribadi yang lebih baik dan aku selalu berusaha
mendapatkannya dari Bagus, tapi aku tak tau bagaimana cara memintanya agar ia
bisa membimbingku.
waktupun terus berjalan, apa yang aku harapkan masih
belum tercapai, tapi aku masih belum menyerah hingga akhirnya akupun masih
belum bisa mendapatkan “sesuatu” darinya atau mungkin aku yang tidak bisa
menangkap “sesuatu” yang dia berikan kepadaku.
namun... itu hanyalah pandanganku secara subjektif karena
aku tidak begitu akrab dengannya. karena aku selalu menilainya dengan penuh
kebosanan (mungkin tidak sesuai dengan harapanku), mungkin memang benar, bosan
karena aku memandangnya secara kacamata hitam. ada hal positif yang
tersembunyi, entah tidak mau ditampilkan atau memang sengaja membiarkanku
menilai dengan caraku yang hanya mencari kesalahannya saja.
1 hal yang memang sulit untuk diterima yaitu ketika
membandingkan aku dengan orang lain yang memang dirasa lebih baik dan bermutu.
okelah, tidak apa. tpi menurutku lebih baik mari urus pertemanan kita sama2
saling melengkapi.
hingga suatu hari disatu titik pada hari selasa dia
sangat marah besar karena kesalahanku dan akupun tak mampu membendung
amarahnya. Mungkin juga karena bercampur dengan masalah yang lain sehingga
lepaslah “bom” emosinya.
aku sadar tentang apa yang aku lakukan kepadanya salah
dan aku coba untuk memperbaiki kesalahanku agar hubungan ini tetap terjaga,
namun aku masih tak kuasa. akupun masih belum bisa melupakan sesuatu yang dia
katakan, “memilihku atau pekerjaan?”
1 hal yang ingin aku katakan adalah aku ada disampingnya
karena pekerjaanku. kalau aku
tidak bekerja tidak mungkin aku bisa bertemu dengannya.
Perasaanku ibarat wanita yang tidak suka
dibanding-bandingkan dengan wanita lain. caba bayangkan saja. memang anggaplah
itu sebagai motivasi, tapi 1 hal lagi, saya butuh bimbingan (secara doa dan
keilmuan) bukan perbandingan karena mental saya masih belum bagus. Ini dunia
pendidikan (yang penuh dengan kasih sayang), bukan dunia militer (yang penuh
dengan ujian baik secara ujian mental atau fisik)
aku tidak ingin dia berubah. aku suka kepribadiannya. aku
hanya ingin tolong fokuslah untuk membimbingku, fokuslah mengajariku sesuatu
yang tidak aku ketahui dan engkau ketahui, tapi itu sangat bermanfaat bagiku.
aku tidak suka Bagus terlalu banyak bicara tentang
hal2 yang
jauh dari apa yang ingin ku ketahui agar hubunganku dengannya tetap sejuk.
dan aku mohon bersabarlah dalam membimbingku karena
akupun tak sama denganmu... tidak sama dan tidak sama. aku minta maaf karena
telah menyayangimu sebagai seorang sahabat dan aku minta maaf aku belum bisa
memahami apa yang engkau mau dariku. Pengalamanmu lebih banyak dariku, untuk
itulah aku lebih suka saat ini aku menjadi anak kecil yang butuh kasih sayang
dan didikan dari ayahnya.
aku tetap akan berusaha untuk menjadi
seorang sahabat yang berusaha tidak mengecewakanmu. aku akan berusaha, tapi
tolong ingatkan aku saat aku akan terjatuh sebelum aku benar2 terjatuh.
Aku tidak ingin
engkau marah lagi, tolong bersabarlah menghadapi sifat
kekanak-kanakanku.
semoga aku bisa mendapatkan sesuatu yang benar2
sangat bermanfaat bagiku dari pertemanan kita............
sebagai penutup tak banyak yang aku sampaikan. aku tidak
ingin bercita-cita untuk menjadi guru, hanya saja ada petuah dari KH. Maimun
Zubair yang selalu aku ingat karena aku berguru pada diriku sendiri dengan apa
yang aku pelajari dan aku alami.
Beliau berkata, “Jadi guru itu tidak usah punya niat bikin
pintar orang. Nanti kamu
hanya marah-marah ketika melihat muridmu tidak
pintar. Ikhlasnya jadi hilang. Yang Penting niat menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik.
pintar. Ikhlasnya jadi hilang. Yang Penting niat menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik.
Masalah muridmu kelak jadi pintar atau tidak, serahkan
kepada Allah. Didoakan saja terus
menerus agar muridnya mendapat hidayah.
menerus agar muridnya mendapat hidayah.
semoga itu selalu menjadi penasehat untuk diriku sendiri.......
tak lupa untuk Bagus sahabatku, semoga tetap bisa menjadi
penyemangat bagi diriku.
1 hal
yang membuatku takut, bukan Karena amarahmu disaat aku tidak bisa melakukan
sesuatu sesuai dengan harapanmu, tapi aku takut jika aku tidak bisa belajar hal
yang sangat bermanfaat darimu.
Aku
tidak suka, tapi (jujur) aku menyayangimu Bagus sabahatku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar